Kamis, 25 Oktober 2012

Indonesia Militan


Judul                   :              Indonesia Militan, Intelek, Kompetitif, Regeneratif
Penulis                :              A. Riawan Amin
Tebal buku         :              194 halaman
Penerbit              :              Celestial Publishing

Buku ini dimulai dengan sebuah penjelasan mengenai arti kata militansi. Dijelaskan dari berbagai macam sumber berkenaan dengan militansi ini, di mana penulis mengerucutkan pada tiga ciri seorang militan yaitu aktivis, tak pernah berhenti berjuang, memiliki strong leadership dan visioner. Sementara arti secara harfiahnya yaitu mengabdi layaknya seorang tentara. Buku ini sangat cocok dibaca oleh orang-orang yang mengaku aktivis pergerakan yang ingin memiliki militansi super. Dalam bab pendahuluan diambil contoh dua orang tokoh yang sangat berpengaruh di Indonesia dan memiliki militansi yang kuat. Dia adalah Soekarno dan Hatta.

            Secara jelas buku ini menceritakan karakter dua orang pemimpin Indonesia itu. Dengan disertai fakta-fakta sejarah dan sedikit ilustrasi gambar membuat buku ini sangat menarik untuk dibaca.

             Mengapa di Republik Indonesia perlu menuntut Irian Barat (sekarang Papua) dari tangan Belanda? Kalau pertanyaan itu dilontarkan pada pemimpin yang tidak visioner, lemah militansinya, maka betul Irian Barat saat itu tak lebih hanya hutan, rawa, dan penyakit malaria. Tapi tidak, dengan Presiden Soekarno. Ia habis-habisan membakar rakyatnya untuk bersatu bergandengan tangan membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda. Bertempat di lapangan banteng, Jakarta, Soekarno mengingatkan betapa strategisnya Irian Barat buat masa depan ekonomi Indonesia.

            Paragraf di atas merupakan petikan dari salahsatu bagian buku tersebut di atas. Dengan gaya bahasanya yang menarik, mas Amin ingin menggambarkan bagaimana orang-orang terdahulu memiliki militansi yang kuat. Di atas militansi itulah bangsa Indonesia ini pun berdiri.

               Buku ini memberikan warna dan sudut pandang yang berbeda soal militan. Kata militansi sering diidentikkan dengan kekerasan. Disalahartikan sebagai terorisme. Padahal, miitansilah yang membuat bangsa ini merdeka; yang mengawal para pahlawan berjuang tanpa pamrih, siap menderita, hidup bersih dan sederhana. Hanya dengan semangat yang sama, anak-anak negeri ini bisa kembali bangkit mengejar ketertinggalannya.

Menanti Kejelasan Politik Negeri Ini


        Sebuah ironi bagi negara demokrasi bahwa terdapat ketidakjelasan praktik politik di negaranya. Indonesia sebagai penganut sistem demokrasi sebagai sistem politiknya sampai saat ini masih belum bisa memberikan transparansi politik pada publik. Banyak masyarakat yang kian hari kian tak peduli pada politik di negeri ini. Semakin apatis. Tingkah laku sebagian elit politik yang memilukan, memalukan, dan memuakkan disambut baik dengan apatisme masyarakat.

            “Politik Indonesia memang sudah bobrok, ga jelas tugasnya.”

            Kata-kata seperti di atas mungkin tak jarang terdengar dari lisan rakyat jelata di bumi Indonesia ini. Pemilu sebagai salah satu bentuk implementasi politik demokrasi Indonesia dibuat tidak transparan. Banyak masyarakat yang kecewa. Pemilu seolah hanya menjadi ajang perebutan kekuasaan, budak para elit politik. Anehnya lagi, hampir setiap level di semua aspek luar politik dipolitisasi. Hukum menjadi mainan politik. Masalah pekerjaan yang seharusnya mengedepankan keahlian juga dibumbui suasana politik. Media informasi dikuasai elit politik tertentu. Bahkan sampai masalah UN siswa SD sampai SMA sudah mulai tercium bau politik.

           Kondisi yang sangat memprihatinkan bagi sebuah bangsa besar seperti Indonesia. Tak heran jika Indonesia pernah menyandang gelar nomor 1 di Asia untuk kasus korupsi. Hal ini akibat kekotoran politik yang tidak transparan. Tidak jelas arah politiknya. Semua seolah hanya mementingkan pribadi dan golongan. Masyarakat yang menjadi korbannya. Kesadaran politik seakan memudar mewarnai kekeruhan politik yang ada. Begitulah gambaran politik Indonesia saat ini. Siapakah yang mau ikut memperkeruhnya? Atau adakah yang mau memperjelasnya? Sungguh sebuah ironi.

Tinta Harapan

Bismillaah...
Blog ini dibuat untuk semua orang yang ku kenal dan yang ingin mengenal diriku. Sebagai sebuah langkah kecil untuk saling mengerti dan berbagi demi menggapai mimpi dan harapan. Menggapai asa,  meraih cita. Berbagi pengalaman untuk sama-sama diambil pelajaran. Kawanku semua, inilah perjalananku di dunia maya. Mari saling mengingatkan untuk kebaikan :)

Sabtu, 07 Juli 2012

Ini kontribusi kami, kamu??

Bismillahirrahmanirrahim ...
Pejuang Kebersihan Kampus - PPSDMS Regional V
*Malindo - TMB, Fakultas Teknologi Pertanian
*Zulfitra - Fakultas Kedokteran Hewan IPB
*Machrus - Agribisnis, Fakultas Pertanian IPB
*Fahmi - PSP, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
*Ikhwan - Matematika, FMIPA IPB

    Ini berawal dari tugas project peduli kebersihan kami di Taman Rektorat, di sana kami melihat kepedulian orang-orang di sekitar taman yang kurang yang terlihat dari banyaknya orang yang sembarangan membuang sampah. Maka kami ambillah suatu project "1 orang satu sampah untuk kebersihann dunia". Projek ini terdiri dari beberapa kegiatan yaitu kami membuat tulisan-tulisan untuk menyemangati teman-teman membuang sampah pada tempatnya pada sebuah trash bag. Kedua Kami pun membuat spot-spot tempat sampah sehingga pada saat ada yang ingin membuang sampah maka bisa lebih mudah.

Jumat, 03 Februari 2012

Para Mantan

Beberapa waktu lalu sempat dengar taujih seorang ustadz berkenaan dengan para mantan.
Jadi membuat saya terinspirasi.

Hal ini telah disinggung dalam banyak ayat Al-Qur'an, salah satunya dalam surat Muhammad ayat 25;

"Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka." (QS 47:5) 

Hmm..
Jadi tersinggung sendiri. Kita sudah sering dengar ada mantan preman, mantan pencopet, mantan rampok, dll. Itu sangat bagus dan enak didengar. Artinya mereka sudah tobat kan? Ga seperti itu lagi. Jangan sampai ada mantan ahli mesjid, mantan hafizh, apalagi mantan kiai. Na'udzubillahi min dzalik. Ga enak banget didengernya kan?

Photobucket

Kata Bijak

"Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah berjuang." (Imam Syafi'i)
 
Copyright (c) 2010 Jalan Perjuangan and Powered by Blogger.